Langsung ke konten utama

LAPORAN KIMIA ORGANIK 1

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN KOLOM




Oleh
AGUSTRI MANDA SARI : A1C117035
DOSEN PENGAMPU

Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019




VII. Data Pengamatan
7.1 Kromatografi Lapis Tipis             
Perlakuan
Pengamatan
Disiapkan plat TLC
a.       Sampel yang akan diuji diekstraki dengan metanol:
b.      Buah naga
c.       Bayam
d.      Nanas
e.       Kembang kertas
f.       Semangka
g.      Wortel
h.      Pepaya
i.        Kentang
j.        Tomat
k.      j.     Kembang sepatu
l.        Hasil dari ekstraksi sampel dengan metanol yaitu:
a.        Larutan berwarna merah keunguan
b.        Larutan berwarna hijau
c.        Larutan berwarna kuning
d.       Larutan berwarna merah pudar
e.        Larutan berwarna merah jernih
f.         Larutan berwarna oren
g.        Larutan berwarna oren
h.        Larutan berwarna coklat pudar
i.          Larutan berwarna oren pudar
m.    j.      Larutan berwarna merah
n.      Sampel yang telah diekstraksi ditotolkan ke plat TLC kemudian plat dimasukkan kedalam chamber yang berisi eluen (n-heksana : etil asetat = 2 ml : 1 ml). Diukur noda yang bergerak
a.        Buah naga
b.        Bayam
c.        Nanas
d.       Kembang kertas
e.        Semangka
f.         Wortel
g.        Pepaya
h.        Kentang
i.          Tomat
o.      j.     Kembang sepatu
a.        Noda bergerak dengan jarak noda 3,9 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
b.        Jarak noda 0,3 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
c.        Jarak noda 3,8 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
d.       Jarak noda 2,5 cm dan jarak pelarut 4,8 cm
e.        Jarak noda 3,7 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
f.         Jarak noda 3,9 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
g.        Jarak noda 3,8 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
h.        Jarak noda 0 cm dan jarak pelarut 4,5 cm
i.          Jarak noda 4,1 cm dan jarak pelarut 4,7 cm
p.      j.      Jarak noda 4 cm dan jarak pelarut 4,7 cm

8.2 Kromatografi Kolom
No
Perlakuan
Pengamatan
1.
Disiapkan alat kromatografi kolom dan dimasukkan kapas serta ditetesi n-heksane
Kapas memadat dalam kolom dan n-heksane membersihkan kapas yang ketinggalan di kolom.
2.
Dicampurkan silika gel dengan larutan n-heksana yang kemudian dimasukkan kedalam kolom secara terus menerus hingga memadat
Silika gel yang dimasukkan kedalam kolom dipadatkan hingga setengah bagian dari kolom
3.
Dicawan petri dimasukkan 1 sudip silika gel dan ditetesi dengan sampel (sambil diaduk)
Sampel menjadi kering dan bercampur antara silika dan senyawa sampel.
4.
Dimasukkan kedalam kolom. Dan di masukkan
5.
Dilakukan untuk 10 sampel tanaman yang berbeda.
Sampel A (buah naga)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
         1.       
Disiapkan pelarut n-heksane :etil asetat = 8 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh bahwa pelarut turun secara perlahan namun sampel tidak turun
         2.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 16 : 2. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Diperoleh sampel sedikit turun diikuti pelarut yang habis.
         3.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 16 : 2. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Diperoleh sampel turun setengah kolom
        4.       
Ditambahkan pelarut kembali yaitu pelarut n-heksane :etil asetat = 15 : 5. Disiapkan wadah pelarut yang turun. Ditetesi pelarut perlahan
Larutan sampel sedikit menurun.
Sampel dalam silika berwarna bening
        5.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes methanol
Diperoleh 5 botol sampel
        6.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2.
Diperoleh bahwa sampel crude (Sampel asli) bergerak. Namun sampel yang sudah dilakukan kromatografi kolom tidak bergerak.
Sampel B (Bayam)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 5 : 10. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Hasil sampel turun didasar kolom, diperoleh:
Botol I : bening
Botol II : hijau
Botol III : hijau pudar
Botol IV : bening
Dimana sampel yang dikolom pada silika mengering berwarna kuning.
2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Diperoleh bahwa tidak ada sampel yang bergerak. Pada botol 1,2 dan 3 pada plat berwarna kuning.
Sampel C (Nanas)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh sampel:
Botol I : berwarna bening
Botol II : silika pecah namun nanas turun menjadi keruh.
Botol III : bening keruh
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1.
Tidak bergerak dan tidak berwarna
Sampel D (Bunga Kertas)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : Bening
Botol II : Bening berminyak
Botol III : Agak keruh
BotolIV : Bening
Botol V : Bening
Silika  sampel berwarna hijau semakin lama semakin turun dan hilang.
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu metanol 100 %.
Fasa gerak hanya terjadi pada crude atau sampel asli. Pada plat terdapat warna cream disepanjang jarak dan dibagian tengahnya berwarna ungu.
Sampel E (Semangka)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Sampel dalam kolom di silika langsung turun. Diperoleh hasil bahwa:
Botol I : Bening
Botol II : Kuning Pudar
Botol III : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat terlihat bahwa hanya crude (sampel asli) yang bergerak dengan warna kuning. Namun pada hasil yang diperoleh pada saat kolom tidak terdapat fasa gerak.
Sampel F (Wortel)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperolh hasil bahwa:
Botol I : sampel udah turun berwarnna bening
Botol II : Kuning cerah
Botol III : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada crude terjadi fasa gerak dengan warna kuning. Namun pada hasil kromatografi kolom pada botol I dan III tidak bergerak namun terdapat warna cream. Sedangkan pada botol II tidak terjadi apa-apa.
Sampel G (Pepaya)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 2. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh:
Botol I : Bening (Sampel belum turun)
Botol II : Kuning (Sampel turun)
Botol III : Bening (Sampel turun)
Botol IV : Bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat terlihat bahwa crude terjadi fasa gerak berwarna orange.
Botol I : tidak terjadi apa-apa
Botol II : tidak bergerak tetapi terdapat warna cream pudar
Botol III : bergerak dengan warna cream
Botol  IV : tidak bergerak tetapi ada warna cream pudar pada plat
Sampel H (Kentang)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : bening ( setengah botol)
Botol II : kuning keruh ( seperdelapan botol)
Botol III : bening
Botol IV : bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1.
Pada plat terdapat fasa gerak pada crude namun pada sampel hasi kromatografi kolom tidak terjadi apa-apa.
Sampel I (Tomat)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil bahwa :
Botol I : berwarna bening
Botol II : berwana kemerahan
Botol III : bening
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat diperoleh bahwa botol III bergerak dan berwarna bu-abu.
Sampel J (Bunga sepatu)
Dilakukan kromatografi kolom seperti perlakuan diatas
        1.       
Disiapkan pelarut n-heksane : etil asetat = 3 : 1. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan
Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun.
Diperoleh hasil :
Botol I : bening
Botol II : keruh
Botol III: keruh pudar
        2.       
Dibiarkan sampel menguap dalam botol. Kemudian di berikan 1 tetes metanol.
        3.       
Dilakukan TLC
Digaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis
Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2
Pada plat tidak terjadi fasa gerak tetapi terdapat warna cream.

VIII. Pembahasan
Pada percobaan kali ini kami melakukan percobaan kromatografi, yang mana dilakukan dengan beberapa cara. Yaitu dengan TLC dan dengan cara kromatografi kolom. Kromatografi merupakan teknik yang digunakan untuk memisahkan suatu campuran zat menjadi komponen-komponen dari campuran zat tersebut, sehingga komponen-komponen dari campuran tersebut dapat dianalisis secara mendalam
http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/04/10/325teknik-pemisahan-dengan-khromatografi/
Kromatografi lapis tipis
Pada percobaan kali ini dilakukan percobaan pada beberapa sampel, yaitu sampel a adalah naga, b : bayam, c : nanas dan d : bunga kertas.  Kemudian plat dimasukkan ke dalam chamber yang mana terdapat lagi ekstrak yang lain. Sampel e : semangka, f : wortel, g : papaya dan h : kentang. Pada percobaan ini sebelum semua sampel digunakan, terlebih dahulu sampel diekstrak dengan menggunakan methanol. Perlakuan pada percobaan ini digunakan fasa diam dan fasa gerak.  Yang mana eluen yang digunakan ialah n-heksana dan etil asetat dengan perbandingan 2 : 1.  Langkah pertama yang dilakukan ialah memotong plat TLC dengan ukuran 5x3 cm yang mana plat tersebut kemudian diberi garis 0,5 cm ukuran dari bawah plat. Langkah selanjutnya ialah menotolkan setiap masing-masing dari ke empat sampel ke dalam plat TLC. Ke empat sampel ialah naga, bayam, nanas dan kembang kertas. Selain itu pipa kapiler terlebih dahulu dimasukkan ke dalam semua eluen guna untuk mensterilkan pipa kapiler tersebut. Setelah itu dimasukkan ke dalam chamber yang berisi eluen yaitu n-heksana dan etil asetat. Setelah penotolan dilakukan ditunggu beberapa menit sampai pekarut bergerak ke atas. Kemudian plat dikeluarkan dan disinari dengan sinar UV agar noda yang bergerak dapat amati dengan jelas. Berdasarkan percobaan yang kami lakukan, hasil yang dapat kami amati ialah jarak noda yang ditempuh oleh sampel buah naga ialah 3,9 cm, nanas 3,8 cm, bunga kertas  2,3 cm dan jarak temppuh. Diperoleh nilai Rf yang relatif sama tidak berbeda pada ketiga sampel yaitu semangka, wortel dan pepaya tidak halnya pada kentang.
Percobaan selanjutnya pada plat (c) dengan 2 sampel saja yang berbeda yaitu tomat dan kembang sepatu. Dengan eluen yang digunakan yaitu n-heksane : etil asetat yaitu 3 : 1, dimana 3 ml n-heksane dan 1 ml etil asetat. Hal yang sama seperti perlakuan pada plat (a) dan plat (b). Maka hasil yang diperoleh pada jarak pelarut sebesar 4,7 cm dan jarak senyawa pada sampel tomat sebesar 4,1 cm maka harga Rf nya 0,872 dan pada sampel kedua yaitu kembang sepatu dengan jarak senyawa sebesar 4 cm sehingga harga Rf nya 0,85.
Diperoleh variasi harga Rf (Retardation faktor) dari 10 sampel tersebut. Hal-hal yang mempengaruhi adalah kandungan atau kuantitas dari masing-masing sampel dan banyaknya eluen atau perbandingan eluen dengan masing-masing kepolarannya. Faktor lain yang mempengaruhi yaitu kurangnya ketelitian dari peneliti dan kurangnya pemahaman peneliti dalam melakukan percobaan ini pada komposisi masing-masing eluen yang digunakan.
Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom merupakan pemisahan kromatografi kolom berdasarkan pada adsorbsi komponen-komponen campuran dengan afinitas berbeda-beda terhadap permukaan fase diam. Kromatografi kolom yang kami gunakan yaitu kromatografi cair-padat (KCP) kolom terbuka. Fase gerak pada kromatografi ini berupa cairan (pelarut) yang mengalir akan membawa komponen campuran sepanjang kolom. Sedangkan substrat padat (adsorben) bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair.
Pada percobaan ini langkah pertama yang dilakukan ialah penyiapan kolom dengan memasukkan kapas pada kolom yang bertujuan untuk menyumbatnya, kemudian ditetesi dengan n-heksane yang bertujuan untuk membersihkan kapas yang nempel pada dinding kolom tersebut. Sebelum itu kolom dimasuki silika gel sebagai adsorben atau substrat padat yang bertindak sebagai fase diam yang sifatnya tidak larut dalam fase cair. Eluen yang bertindak sebagai fase gerak ialah n- heksane, dimana n-heksane merupakan cairan (pelarut) yang akan mengalir dan mebawa komponen campuran sepanjang kolom.setelah penyiapan kolom selesai maka dilanjutkan dengan penyiapan sampel yang mana dengan mencampurkan senyawa murni pada 10 sampel yang berbeda. 10 sampel tersebut ialah sampel buah naga, sampel bayam, sampel nanas, sampel bunga kertas, sampel semangka, sampel wortel, sampel pepaya, sampel tomat dan sampel bunga sepatu. Masing-masing sampel tersebut kemudian dicampur dengan silica gel dengan beberapa tetes sampel saja dan diaduk hingga kering pada cawan petri. Kita hanya menggunakan per sampel tidak menggabungkan beberapa sampel. Kemudian sampel tersebut dimasukkan kedalam kolom dan diratatakan sambil ditetesi dengan dengan campuran dua pelarut tergantung pada sampel dan banyaknya pelarut bergantung pada kepolaran masing-masing pelarut. Hasil yang diperoleh berbeda-beda pada setiap sampel dengan masing-masing eluen yang digunakan sebagai berikut:
Pada sampel pertama yaitu buah naga dengan eluen atau pelarut yang digunakan pada proses kromatografi ini ialah n-heksane : etil asetat dengan perbandingan 8:1.  Selanjutnya kolom ditambahkan sampel buah naga yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Kemudian diamati setiap pelarut yang turun dan keluar dan dimasukkan ke dalam botol-botol kecil yang telah disediakan. Setiap pekarut yang menunjukan perbedaan maka botol yang digunakan berbeda. Apabila sampel tidak mau keluar maka dilanjutkan dengan penambahan pelarut yang sama sebanyak 16:2. Hasilnya sampel turun sedikit, hingga diperoleh ampel pelarut kembali. Diulangi dengan pelarut dan perbandingan yang sama diperoleh hasil bahwa sampel turun setengah. Sampel yang tidak turun-turun dilakukan kembali hal yang sama dengan pelarut tersebut dengan perbandingan yang berbeda yaitu  15:5. Diperoleh bahwa sampel sedikit menurun. Diperoleh 5 botol sampel berwarna bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis.  Proses TLC diawali dengan menggaris kertas pada plat TLC 0,5 cm sebanyak 5 garis. Diteteskan, (ditotolkan) 5 tetes sampel dan 1 tetes crude sampel pada plat tetes. Kemudian dimasukkan kedalam eluen yaitu n-heksana : etil asetat dengan perbandingan 3 : 2. Diperoleh pada proses TLC yaitu hanya crude (sampel asli) yang bergerak. Sedangkan sampel asil kromatografi kolom tidak.
Sampel kedua yang digunakan ialah bayam yang mana menggunakan eluen atau pelarut  pelarut n-heksane : etil asetat dengan perbandingan 5 : 10. Kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bayam yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Pda kolom kemudian dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Sama seperti perlakuan sebelumnya disiapkan botol-botol kecil untuk menampung pelarut yang turun. Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan dapat kami amati bahwasannya botol I menunjukkan warna bening, botol II : hijau dan botol III : hijau pudar, Botol IV : bening. Dimana sampel yang dikolom pada silika mengering berwarna kuning. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis.Kemudian dilakuakn TLC seperti prosedur yang sama diperoleh bahwa tidak ada sampel yang bergerak. Namun pada botol 1,2 dan 3 pada plat berwarna kuning.
Untuk sampel selanjutnya yang digunakan ialah nanas. Selain itu juga disiapkan eluen atau pelarut kloroform : metanol dengan menggunakan perbandingan yang telah ditetapkan yaitu 3 : 1. Seperti perlakuan sebelumnya kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel nanas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan. Setelah dilakukannya percobbaan kami mencoba mengamati setiap tetesn pelarut pada botol kecil tersebut dengan memisahkan setiap pelarut yang menghasilkan warna berbeda. Maka setibp pelarut masing-,asing dimasukkan ke dalam botol-botol kecil yang telah disediakan.hasil yang dapat kami amati ialah botol I : berwarna bening, botol II : silika pecah namun sampel nanas turun menjadi keruh dan Botol III : bening keruh. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Kemudian dilakuakn TLC dimasukkan kedalam eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 2 : 1. seperti prosedur yang sama diperoleh bahwa tidak bergerak dan tidak berwarna.
 Selanjutnya pada sampel ke empat digunakan bunga kertas. Selanjutnya digunakan eluen atau pelarutnya yaitu kromatografi. Sama seperti perlakuan sebelumnya kemudian kolom yang telah terisi dengan silika gel yang memadat ditambahkan sampel bunga kertas yang kering dan tetesi dengan pelarut tersebut secara perlahan. Dimasukkan secara terus menerus dan perlahan Disiapkan wadah untuk pelarut yang turun. Diperoleh hasil : Botol I : Bening, Botol II : Bening berminyak, Botol III : Agak keruh, Botol IV : Bening, dan Botol V : Bening. Silika  sampel berwarna hijau semakin pudar. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, fasa gerak hanya terjadi pada crude atau sampel asli. Pada plat terdapat warna cream disepanjang jarak dan dibagian tengahnya berwarna ungu.
Sampel selanjutnya yaitu semangka. Pada sampel ini digunakan eluen atau pelarut n-heksane : etil asetat yaitu dengan perbandingan 3 : 2. Sama seperti perlakuan sebelumnya kemudian disiapkan botol kecil untuk menampung pelarut dari dalam tabung reaksi. Setelah diisikan perlahan-lahan sampel dalam kolom di silika langsung turun. Hasil yang dapat kami amati botol I berwarna Bening, botol II berwarna Kuning Pudar dan botol III berwarna Bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, Pada plat terlihat bahwa hanya crude (sampel asli) yang bergerak dengan warna kuning. Namun pada hasil yang diperoleh pada saat kolom tidak terdapat fasa gerak.
Kemudian dilanjutkan dengan sampel  wortel. Dengan menggunakan eluen atau pelarut  n-heksane : etil asetat dengan perbandingan yaitu 3 : 2. Setelah diberikan lagi perlakuan yang sama, hasil yang dapat kami amati ialah botol I : sampel udah turun berwarna bening, botol II : kuning cerah, dan botol III berwarna Bening.
Pada sampel selanjutnya yaitu papaya dengan menggunakan pelarut atau eluen n-heksane dan etil asetat dengan perbandingan 3 : 2. . Setelah diberikan lagi perlakuan yang sama, hasil yang dapat kami amati ialah botol I berwarna bening (Sampel belum turun), botol II berwarna kuning (Sampel turun), botol III berwarna bening (Sampel turun) dan botol IV berwarna bening Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya, pada plat terlihat bahwa crude terjadi fasa gerak berwarna orange. botol I : tidak terjadi apa-apa, botol II : tidak bergerak tetapi terdapat warna cream pudar, botol III : bergerak dengan warna cream dan botol  IV : tidak bergerak tetapi ada warna cream pudar pada plat.
Pada sampel selanjutnya kentang. Disiapkan pelarut kloroform : metanol = 3 : 1. Setelah diberikan perlakuan yang sama maka dapat diamati hasilnya yaitu : botol I berwarna bening ( setengah botol), botol II berwarna kuning keruh ( seper delapan botol), botol III berwarna bening dan Botol IV berwarna bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat terdapat fasa gerak pada crude namun pada sampel hasi kromatografi kolom tidak terjadi apa-apa.
Pada sampel selanjutnya tomat. Dengan menggunakan pelarut atau eluen yaitu kloroform : metanol dengan perbandingan 3 : 1. Setelah diberikan perlakuan yang sama dapat diamati hasil nya yaitu botol I  berwarna bening, botol II berwana kemerahan dan botol III berwarna bening. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat diperoleh bahwa botol III bergerak dan berwarna bu-abu.
Yang terakhir adalah sampel bunga sepatu. Yang mana menggunakan pelarut atau eluen kloroform : metanol dengan perbandingan 3 : 1. Setelah diberikan dengan perlakuan yang sama, maka dapat diamati hasilnya yaitu botol I berwarna bening, botol II berwarna keruh dan botol IIIberwarna keruh pudar. Setiap botol dibiarkan menguap dan kemudian ditetesi dengan metanol. kemudian dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis. Hasilnya pada plat tidak terjadi fasa gerak tetapi terdapat warna cream.
Dari percobaaan beberapa sampel diatas dapat diamati bahwa terdapat perbedaan laju turun dari masing-masing sampel dalam kolom dan beberapa percobaan berdasarkan pemisahan dengan kromatografi kolom didasarkan kekuatan adsorpsi atau daya serap dari koefisien partisi antara fasa gerak dan fasa diam. Selain itu juga dipengaruhi oleh fasa gerak yang digunakan dalam proses tersebut berdasarkan kepolarannya.


IX. Pertanyaan Pasca Praktikum
1.                  Bagaimana cara membersihkan plat pada awal percobaan ?
2.                  Eluen apa saja yang digunakan dalam proses kromatografi?
3.                  Apa yang menyebabkan sampel tidak mau turun pada saat kromatgrafii kolom?

XII. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini, yaitu:
1.                  Kromatografi adalah salah satu proses pemisahan molekul-molekul berdasarkan fase gerak dan fase diamnya dalam suatu larutan.
2.                  Kelebihan dari kromatografi lapis tipis dibanding kolom adalah : pengerjaannya membutuhkan waktu yang cepat, bahan yang diperlukan bisa di sesuaikan dengan kebutuhan, serta proses pemisahannya berlangsung baik.
3.                  Teknik pemisahan kromatografi ini juga digunakan untuk menentukan nilai Rf nya dengan rumus sebagai berikut: jarak yang ditempuh oleh zat yang diteliti dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut.

XIII. Daftar Pustaka

Budiasih, 2008. Hanbook Ibu Menyusui. Bandung: Karya Kita.
Endang & Erma, 2010. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Gitter, 2011. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Diterjemahkan oleh Sri Andani dan E. D. Purbayanti. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Ratnayani,dkk, 2013. Aktivitas Antiradikal Bebas Serta Kadar Beta Karoten pada MaduRandu (Ceiba Pentandra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium Longata L.), Jurnal Kimia, 4 (1), Januari 2010 : 54-62

XIV. Lampiran Gambar

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0hKixvbfjmhFdDojyV9JYyA7dscfelOtBG4djnJfGp69MZ3xIBkxEyuZx1bm_hhkr97gXv3P6vif9oKauFtWkjbgLxjLhrPD_BP1I_s1iYiQkC4SWn19U9Ol-V63ndU6TAlAhJ4s87nGd/s1600/pengekstrakan+sampel.jpeg
Pengekstrakan Sampel
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZaFRuc6OIm186wv2DpReE4KFIxNwO6heVmSHNFPIqjHVD09vIgKJGRJj42fK1Ybtw8dHH4KeHlvELKFOindurUgfb7GZeoOj7OSUSW4Mg_FzFO6__qUkwCVcsSvNWKAShjU0nZYzuOVTZ/s200/hasil+ekstrak+dari+sampel.jpg
Hasil pengekstrakan dari sampel
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi8S-yH0mjjkVPPDf2Ghyp2YL6txGm-iZevIm3ZlTwIyEsDq7DBeCLHu3RBol3j5b2xpE4_TX9h5YNawhfVs89sELK24Izp0Qez69841io2NxLNnI9var_6bVH_nVZc3rSFfEkQhYFTrYO/s1600/perendaman+plat+pada+eluen.jpeg
Perendaman Plat pada eluen
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOLgtJ2KDVQpK9pIDFUWIfe918WzdVlhmdNG4ChY24fMxzBW-1lroz4QylgLbqUEdi4IqlmKTn-TCMJ6Snr46J5qtlpAbIyncGOSidn2XjLrsQgx5EqbXxwM8wpd4cPh2cYxW5dJ8hNhys/s320/penyinaran+sinar+uv+pada+plat+TLC.jpg
Penyinaran sinar UV pada plat TLC
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiI_ndpZHP0V-kTq-Lk8fe7FMWiMq0YZtvpfvzhCRUZ8HQGHod7NLE8oNa1Lgx_Ry05TjqVZsRgo-3eXG_ejtRQgWG7nTf-sOXkf65S4wS7SJRcu5E-5WyOr-y0bgGxsiai7lOvLy3VjT4-/s320/proses+kromatografi+kolom.jpg
Proses kromatografi kolom




Komentar

  1. Saya monica (077) akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, yaitu Eluen atau pelarut yang digunakan ialah Kloroform, etil asetat, n-heksana, etanol dan metanol

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3. Sampel tertahan di dalam tabung reaksi disebabkan oleh pecahnya silika gel yang ada dalam tabung reaksi (sheial sagita, 09)

    BalasHapus
  3. arnia haiza annisa (049) akan menjawab pertanyaan nomor 1. Dengan cara memasukkan plat ke dalam chamber yang didalam nya diisikan dengan eluen atau pelarut yang telah ditentukan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL KIMIA ORGANIK I REAKSI ALKOHOL DAN FENOL

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 REAKSI REAKSI ALKOHOL DAN FENOL Oleh AGUSTRI MANDA SARI : A1C117035 DOSEN PENGAMPU Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN UNIVERSITAS JAMBI 2019 I.Judul                          : Reaksi - Reaksi Alkohol dan Fenol II.Hari, Tanggal           : Sabtu, 30 Maret 2019 III.Tujuan                     : Adapun tujuan dilakukannya praktikum yaitu : 1. Untuk memahami dan mengetahui perbedaan sifat-sifat antara alkohol dan fenol 2. Untuk memahami dan mengetahui jenis-jenis reaksi dan pereaksi yang digunakan untuk membedakan antara senyawa-senyawa alkoho...

KIMIA BAHAN ALAM PENYEDAP RASA

      KIMIA BAHAN ALAM UNTUK MAKANAN, MINUMAN DAN PENYEDAP RASA           Flavor adalah persepsi biologis, yaitu sensasi yang dihasilkan dari bahan yang ada  pada mulut. Flavor pada prinsipnya dapat diterima oleh reseptor aroma pada hidung dan reseptor rasa dalam mulut. Flavor seperti yang ada pada buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan hasil dari produk sekunder dari berbagai jenis jalur metabolism. Metabolit sekunder berasal dari metabolit primer seperti protein, karbohidrat dan lemak dan biasanya tidak langsung memberi citarasa. Contoh metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, phenol dan senyawa aromatik yang dapat disintesa dari metabolit asam amino primer yaitu  phenylalanine, tyrosine, dan tryptophan. Pada dasarnya flavor dapat dibedakan jadi tiga berdasarkan sumbernya yaitu alami, proses dan buatan. Yang alami contohnya senyawa terpene yang ada pada rempah-rempah. Pada proses fermentasi dihasilka...

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 REAKSI-REAKSI ALDEHIDA DAN KETON Oleh AGUSTRI MANDA SARI : A1C117035 DOSEN PENGAMPU Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN UNIVERSITAS JAMBI 2019 VIII .  Data Pengamatan 8.1 Uji Cermin Kaca, Tollens No Perlakuan Hasil 1 Tabung 1 berisi 1ml Tollens + 2 tetes Benzaldehid Tidak bereaksi 2 Tabung 2 berisi 1ml Tollens + 2 tetes Aseton Tidak bereaksi 3 Tabung 3 berisi 1ml Tollens + 2 tetes Sikloheksanon Tidak bereaksi 4 Tabung 4 berisi 1ml Tollens + 2 tetes Formalin Terbentuk cermin 5 Tabung 1 dipanaskan ± 5 menit Terbentuk cermin 6 Tabung 2 dipanaskan ± 10 menit Tidak bereaksi 7 Tabung 3 dipanaskan ± 10 menit Tidak bereaksi ...